
Some love stories don't end in heartbreak. They end in blood.

14. Keluarga Sandriel
Langit kelabu menggantung rendah, membebani suasana dengan gulungan awan gelap, saat mobil yang membawa Karina, Wooyoung, dan Mingi berhenti di depan sebuah rumah tua.Bangunan itu tampak suram dengan dinding penuh noda, cat mengelupas, dan pagar besi berkarat yang mencolok di antara rerumputan liar. Rumah itu sama sekali tidak berubah sejak pertama kali Karina datang ke sana—dulu, ketika ia nekat mencari San.Namun kali ini, pria itu sudah tidak ada lagi.Karina melangkah perlahan, napasnya tidak teratur sementara detak jantungnya berpacu seakan ingin meledak. Telapak tangannya terasa dingin meski Wooyoung, yang berjalan di sampingnya, sempat menyenggol ringan bahunya—gerakan kecil itu seperti memberi isyarat agar ia harus tetap tegar.Begitu mereka menjejak halaman, suasana duka menyambut. Beberapa orang berdiri kaku, sementara yang lain duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Di tengah ruangan utama, terlihat sebuah peti yang tertutup rapat, dikelilingi bunga-bunga putih yang menebar aroma lembut namun menyengat—cukup tajam untuk membuat kepala Karina terasa semakin berat.Namun, pandangan Karina akhirnya berhenti pada sosok di dekat peti: seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas namun lelah. Rambutnya disanggul rapi, matanya sembap, tapi dalam sorot matanya ada campuran amarah yang ditahan dan emosi yang sulit dijelaskan.Dialah ibu San.Tatapan mereka bertemu. Hanya sesaat, sebelum wanita itu melangkah tergesa mendekat. Seketika perhatian semua orang tertuju pada mereka."Kau... Karina, kan?" suaranya serak dan dingin, pecah oleh amarah yang berusaha ia kendalikan. "Kau perempuan yang ada di berita itu! Kau yang membuat anakku dihina... dan dibunuh!"Karina tercekat. Nafasnya tertahan, matanya membelalak. Kata-kata itu menusuk begitu tajam hingga ia tidak sempat merespons.Wanita itu terus mendekat. Suaranya semakin meninggi, berubah menjadi teriakan yang menggelegar tanpa terkendali. "Semua orang menyalahkan anakku! Dan itu semua gara-gara kau! Kau menghancurkan hidupnya! Kau hanya membuat dia semakin terluka... semakin rusak!"Tanpa sadar, Karina mundur setengah langkah. Wooyoung bergerak cepat—menarik bahunya ke belakang sebelum ia sempat kehilangan keseimbangan. Ia berdiri tegap di depan untuk melindunginya dari amukan itu. Tubuhnya menjadi tembok penghalang, menciptakan jarak dan waktu yang cukup agar Karina bisa bernapas lagi dan menemukan pijakannya yang hampir hilang.Di sisi lain, Mingi juga maju satu langkah, suaranya rendah namun lembut, mencoba menenangkan wanita paruh baya itu. "Tante... cukup. Ini bukan salah Karina."Namun wanita itu sudah kehilangan kendali. Tangis dan amarah meledak menjadi badai yang tak bisa lagi dibendung. Air mata jatuh tanpa henti di wajah lelahnya, sementara tangannya bergetar hebat seperti berusaha mencari pegangan di tengah badai perasaan yang menyiksanya. "Kalian semua tidak tahu apa-apa! Kalian tidak akan pernah mengerti... bagaimana dia hidup! Dari kecil dipukuli, dihina, ditinggalkan! Anak itu satu-satunya milikku... dan sekarang dia pergi selamanya! Gara-gara cinta bodoh kalian semua!"Suasana berubah mencekam. Orang-orang mulai berbisik pelan, sebagian mundur dan menjaga jarak karena takut terseret dalam pusaran emosi yang membakar ruangan itu.Karina tetap berdiri, meski tubuhnya gemetar. Air mata menetes dari sudut matanya. Suaranya pelan, hampir tenggelam dalam keheningan—namun mengandung luka yang sama dalamnya. "Aku juga terluka... aku juga hancur... karena dia. Tapi aku tidak pernah benar-benar membencinya," ucapnya lirih, suaranya pecah di akhir kalimat.Wanita tua itu menatapnya lama. Wajah yang tadi dipenuhi amarah perlahan melunak—berganti guratan kelelahan yang begitu kentara. Matanya memerah, seperti api yang mulai padam setelah terlalu lama membara. Akhirnya ia menyerah; tubuhnya lemas dan jatuh bersandar di kursi terdekat. Ia menangis histeris tanpa peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya.***Suasana di rumah itu semakin menyesakkan. Tangis pilu ibu San masih menggema, namun tiba-tiba sebuah bentakan keras memecah keheningan."Kau sudah puas sekarang?! Anakmu sudah pergi, dan kau masih saja berpura-pura menjadi orang suci?!"Semua kepala serentak menoleh. Dari arah pintu, seorang pria muncul—tubuhnya tegap, ekspresi wajahnya keras, dengan tatapan menyala penuh amarah. Napasnya memburu, setiap katanya dilontarkan dengan nada penuh dendam.Karina tahu siapa pria itu... ayah San.Ibu San, yang wajahnya memerah dan basah oleh air mata, tampak terguncang. Ia mencoba bangkit untuk membela diri. "Jangan mulai lagi di sini! Anak kita sudah tidak ada, dan kau—""Diam kau!" potong ayah San sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahnya dengan sikap mengintimidasi. Tatapannya menusuk, hampir membakar. "Kau pikir semua ini bukan salahmu? Kau berselingkuh! Kau tinggalkan dia! Kau yang sudah menghancurkan hati anakmu sendiri bahkan sebelum semuanya terjadi!"Ucapannya membuat suasana duka menjadi semakin tegang. Tak satu pun orang yang berada di dalam ruangan itu berani untuk bergerak atau berkata sepatah pun. Bahkan Karina, Wooyoung, dan Mingi hanya bisa terpaku di sudut, menatap tanpa suara.Ibu San menggertakkan gigi, suaranya bergetar namun penuh perlawanan. "Aku berselingkuh?! Aku yang menghancurkan? Kau lupa siapa yang lebih dulu merusak keluarga ini? Ya! Itu kau... kau!" suaranya meninggi. "Sikapmu yang obsesif, kasar, posesif! San tumbuh dengan melihatmu bertingkah seperti itu! Kau ajari dia bahwa cinta adalah tentang kepemilikan, tentang menyakiti demi mempertahankan! Kau lupa siapa yang selalu memukulnya?!"Wajah ayah San mengeras. Ia melangkah maju, suaranya serak—entah dipenuhi amarah, atau rasa bersalah yang selama ini terkubur. "Ada alasan kenapa aku memukulnya!" Napasnya tersengal. "Aku hanya ingin menyelamatkannya! Dia anak laki-laki! Tidak seharusnya dia menangis dan merengek setiap hari hanya karena ingin bertemu ibunya—wanita jalang yang bahkan sudah tidak peduli lagi padanya!"Ia membuang muka, bahunya bergetar halus. Tatapannya kemudian jatuh pada Karina. "Kau..." ujarnya pelan, menunjuk ke arahnya. Suaranya pecah di ujung kalimat. "Semakin dia tumbuh dewasa, aku tahu dia mulai meniruku... aku melihat dia menyimpan foto-foto perempuan itu di kamarnya." Ia tertawa getir, hampir tanpa suara. "Aku takut... dia akan menjadi monster sepertiku."Karina tertegun. Dunia seolah berhenti sesaat. Napasnya tercekat, dadanya terasa sesak—seperti baru saja dihantam sesuatu yang berat. "Foto-fotoku...?" bisiknya, nyaris tak terdengar.Wooyoung dan Mingi saling berpandangan — bingung, terkejut, tidak tahu harus berbuat apa.Ibu San tertawa getir di tengah air mata yang terus mengalir. "Dan itu caramu menyelamatkannya? Dengan pukulan? Kau bangga, hah? Anakku pergi membawa luka yang sama sepertimu! Dia mati dalam obsesi yang kau wariskan!"Suasana pecah dilingkupi kekacauan. Beberapa orang mencoba melerai, sementara Karina hanya berdiri terpaku. Pikirannya berputar cepat, menelusuri kembali setiap ingatan—ketika ia menemukan San babak belur di rumah ini, teriakan ayahnya, lalu kalimat yang dulu ia dengar kembali melintas begitu jelas: "Jauhi anakku. Kau tidak pantas bersamanya."Akhirnya, semuanya mulai terangkai dengan jelas. Seperti potongan puzzle yang selama ini tercecer, satu per satu kini jatuh pada tempatnya.Ayah San sudah mengetahui segalanya sejak lama—bahwa obsesi San bukan sekadar rasa kehilangan, tapi sesuatu yang telah melampaui batas. Dan lebih dari itu, ia takut... takut putranya tumbuh menjadi cermin dari dirinya sendiri.Karina memegangi dadanya, berusaha mengatur napas yang terasa berat dan terputus-putus. Mingi dan Wooyoung menatapnya dengan wajah pucat, tak sanggup mengucap apa pun. Namun tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah terbuka.Alasan San begitu posesif, alasan dia bisa sekasar itu, alasan dia tidak pernah benar-benar bisa melepaskan Karina—semuanya berakar dari luka. Dari trauma dan kekerasan yang bertahun-tahun membentuk dirinya.San adalah cerminan kelam dari ayahnya—dia bukan hanya korban keadaan, tapi juga produk dari keluarga yang retak; tempat di mana cinta berubah menjadi belenggu, dan obsesi beracun yang terus diwariskan seperti kutukan yang tak pernah selesai.

15. Cinta yang Salah
Saat kericuhan akhirnya mereda, rumah itu mendadak terasa terlalu sunyi. Para pelayat pergi satu per satu, meninggalkan aroma dupa dan bunga yang semakin menekan kepala Karina. Ia berdiri sendirian di dekat lorong, pikirannya berantakan, seolah sebagian dirinya masih tertinggal di tengah kekacauan yang baru saja usai.Lamunannya terputus oleh suara langkah kaki yang mendekat. Ibunya San. Wanita itu muncul dengan wajah sembab dan mata merah yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan kesedihan. Namun kali ini, ada ketenangan di tatapannya—meski di baliknya masih tersisa amarah dan kepedihan yang belum hilang.Di tengah keheningan, mereka berdiri saling berhadapan. "Kau... Karina, benar?"Karina mengangguk pelan. Wanita itu menarik napas panjang sebelum bersuara, parau namun tulus. "Aku minta maaf... tadi aku terlalu emosi. Aku cuma... tidak bisa mengendalikan diriku."Karina hampir tak sanggup membalas, tapi dengan suara pelan ia berkata, "Tidak apa-apa, Tante... Aku juga tak pernah ingin semuanya berakhir seperti ini."Ibu San mendekat satu langkah. Tatapannya mulai melunak—penuh penyesalan yang mendalam. "San... anakku... dia tumbuh di rumah yang salah. Di antara luka yang kami buat sendiri. Semua obsesinya, semua ketakutannya... itu datang dari kami."Karina menggigit bibir, menahan air mata yang sudah menggenang. "Dulu... aku benar-benar menyayanginya. Tapi aku juga takut. Dia mulai menyakitiku... tapi di saat yang sama, dia selalu bilang satu hal—dia cuma takut kehilangan."Wanita paruh baya itu menghela napas panjang. Pandangannya menerawang kosong, seolah menatap masa lalu yang tak bisa diubah lagi. "San... dia terlalu mirip dengan ayahnya," ucapnya pelan, hampir seperti pengakuan yang baru disadari. "Aku benar-benar tidak menyangka... kalau dia akan menjadi sepertinya." Suara itu bergetar, perlahan melemah. "Dan aku... aku tak pernah cukup kuat untuk menyelamatkannya."Keheningan turun perlahan, hanya diselingi oleh bunyi jam dinding yang berdetak pelan di sudut ruangan. Karina akhirnya mengambil langkah kecil mendekati wanita itu. "Aku datang hari ini bukan untuk menuntut apa pun, atau memperbesar masalah... aku cuma ingin mengerti semuanya," ujarnya pelan. Ia menunduk sedikit, menarik napas gemetar. "Aku hanya ingin menutup bab ini dengan tenang."Ibu San menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Besok... kalau kau ada waktu, datanglah saat kremasi."Sekali lagi, Karina mengangguk—meski dadanya terasa sesak dan berat. Mereka berdiri diam di tengah ruangan yang dipenuhi kenangan kelam; tempat di mana luka-luka San masih berdiam di setiap dinding, meninggalkan jejak cinta dan penderitaan yang saling membentuk... hingga batas di antara keduanya nyaris tak bisa dibedakan lagi.***Pada keesokan harinya, langit tetap kelabu. Hujan gerimis turun perlahan, membasahi halaman krematorium yang sepi. Udara terasa berat, dipenuhi aroma dupa dan bunga krisan putih yang perlahan layu di udara.Upacara berlangsung dalam kesunyian. Doa-doa lirih terdengar di antara gemericik hujan yang menetes di atap krematorium, mengiringi peti San yang perlahan didorong masuk ke ruang pembakaran.Karina menunduk dalam, kedua tangannya saling menggenggam erat—berusaha menahan gemuruh di dadanya yang tak kunjung reda.Wooyoung berdiri di sisinya, matanya memerah dengan rahang yang mengeras menahan emosi. Di sebelahnya, Mingi sesekali melirik Karina—raut wajahnya penuh kecemasan, namun tak ada kata yang sanggup keluar. Di antara mereka bertiga, hanya keheningan yang berbicara.Karina tampak rapuh, tubuhnya sedikit bergetar. Ketika nyala api mulai terlihat di balik kaca ruang pembakaran, bibirnya gemetar. Dengan suara yang nyaris tenggelam di tengah desau hujan, ia berbisik pelan, "San..."Satu kata kecil itu pecah di udara, bergema lirih di sela isakannya—seolah menjadi panggilan terakhir yang tak sempat terjawab. Di sebelahnya, Jeno berdiri dengan tatapan iba, mencoba menenangkannya tanpa banyak bicara.Setelah prosesi selesai, hanya keluarga inti yang masih tetap bertahan di sana. Para pelayat mulai meninggalkan halaman krematorium satu per satu. Asap tipis masih melayang dari cerobong di kejauhan, menyisakan aroma dupa yang menempel di kulit dan pakaian, menyatu dengan udara dingin pagi itu.Dalam keraguannya yang terlihat jelas, ibu San perlahan melambaikan tangan ke arah Karina—sebuah isyarat halus yang memintanya untuk mendekat.Di bawah naungan pohon besar di sisi halaman, ibu San menunggu dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Ada sesuatu di balik sorot matanya—menyiratkan konflik yang belum selesai, tapi juga tekad untuk menutup lembaran lama. "Ada yang ingin kubicarakan," ucapnya pelan, suaranya nyaris tersapu angin. "Kau belum mau pulang, kan?"Karina mengangguk perlahan, meski jantungnya berdetak cepat. Masih sulit baginya untuk benar-benar merasa tenang ketika harus berdiri berhadapan dengan wanita itu.Ibu San menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. Pandangannya kosong, menerawang jauh ke langit kelabu. "San... dia anak yang baik. Dari kecil, dia hampir tak pernah bikin masalah. Lembut, suka membaca, dan selalu ingin semua orang di sekitarnya bahagia. Dulu aku pikir, dia adalah anak paling manis di dunia."Raut wajah Ibu San dan Karina sempat menghangat; seulas senyum kecil terselip di antara mereka ketika wanita itu menunjukkan foto masa kecil San—satu-satunya yang masih ia simpan. Namun senyum itu segera memudar saat ia terdiam, matanya bergetar menahan gumpalan kenangan yang menyesakkan."Tapi... waktu itu aku bodoh," lanjutnya lirih. "Aku kira bertahan demi keluarga itu hal yang paling benar. Aku pikir menahan rasa sakit setiap hari bisa melindungi San. Tapi ayahnya... dia bukan orang yang mudah. Keras kepala, obsesif, dan selalu ingin segalanya berjalan sesuai kehendaknya."Sebuah senyum getir muncul di wajahnya, bersamaan dengan pandangan yang perlahan menunduk. "Aku... aku menyerah. Aku pergi. Aku tahu itu salah, tapi aku sudah tidak sanggup bertahan, Karina. Saat itu aku pikir, mungkin kalau aku menjauh, setidaknya San bisa hidup tenang—tanpa harus melihat ibunya terus disakiti."Suaranya pecah, napasnya bergetar pelan. "Tapi itu juga salah. San tetap tinggal bersama ayahnya. Dan setelah itu... dia tak pernah benar-benar kembali padaku. Telepon darinya semakin jarang, pesan-pesannya semakin singkat. Sampai akhirnya... tidak ada kabar sama sekali."Ia menarik napas panjang, menatap tanah basah di bawah kakinya. "Sekarang aku hanya bisa menebak-nebak... apa yang terjadi padanya selama ini. Tapi satu hal yang aku yakini—kalau ada sisi gelap dalam diri San, itu bukan salahnya. Itu... warisan dari ayahnya, yang selalu mengira cinta berarti memiliki segalanya."Tatapannya perlahan terangkat, menatap Karina dengan sorot nyaris memohon. "Aku sudah lihat apa yang ditulis di berita itu." Ia menarik napas panjang, bergetar. "Polisi bilang penyelidikannya sudah ditutup. Kata mereka, anakku tewas dalam penyerangan acak. Tidak ada tersangka, tidak ada penangkapan."Wajahnya menegang, bibirnya gemetar. "Tapi aku tahu, alasannya bukan hanya karena kurang bukti. Mereka... mereka tidak benar-benar mau menyelidikinya. Katanya, 'orang seperti dia' sudah banyak masalah sejak awal. Kriminal, begitu mereka menyebutnya."Ia tertawa kecil—pahit, nyaris seperti tercekik. "Seolah karena dosanya, nyawanya tak pantas diperjuangkan." Matanya menunduk. "Kami tidak punya uang untuk mendorong kasusnya lebih jauh. Kami juga tidak punya bukti yang cukup untuk membuka kembali kasusnya. Kami juga... tidak punya siapa-siapa untuk membantu. Tidak ada yang peduli pada keluarga pelaku, apalagi kalau pelakunya sudah mati."Ia menatap Karina lagi, sorotnya lembut tapi menyayat. "Jadi, tolong... jangan ingat San hanya dari bagaimana hidupnya berakhir. Aku tahu sulit untuk mengubah pandangan semua orang, tapi Karina..." suaranya bergetar, "dia dulu anak yang baik. Dia hanya ingin dicintai... dengan cara yang benar."Karina menunduk. Matanya bergetar, dan rasa perih itu naik sampai ke tenggorokan. Ia masih bisa mengingat semuanya—terlalu jelas. Teriakan, pisau yang berulang kali terangkat, darah yang menyembur di bawah cahaya lampu pom bensin. Tujuh orang. Ia menghitungnya malam itu, tanpa tahu kenapa. Dan di antara malam yang penuh kekacauan itu, hanya dirinya yang masih berdiri, menyaksikan San yang perlahan jatuh—akhir yang tak pernah ia harapkan.Ibu San perlahan membuka tas kecil yang sejak tadi ia genggam. Gerakannya hati-hati, seolah takut pada benda yang hendak ia keluarkan. Dari dalamnya, ia menarik sebuah buku harian tua—sampulnya lusuh, halamannya kusam, warnanya memudar dimakan waktu."Buku harian anakku," ujarnya lirih. "Dikembalikan oleh pihak polisi. Mereka menemukannya di dalam mobilnya." Ia berhenti sejenak, menatap buku itu lama, seolah masih sulit melepaskannya. "Aku sudah membaca sebagian. Semua tentang dia ada di sini—kenapa dia seperti itu, kenapa dia berubah. Aku tidak tahu apakah kau siap membacanya, tapi... ini rahasia yang selama ini dia sembunyikan."Karina melangkah maju dengan ragu. Tangannya terulur, gemetar saat menerima buku itu. Matanya langsung tertuju pada salah satu halaman yang terlipat—tulisan itu terlalu mencolok: "Kalau aku kehilangan Karina... lebih baik aku mati. Kalau dia meninggalkanku... aku akan pastikan dia tetap bersamaku, bagaimanapun caranya. Dia milikku."Karina menutup mulutnya. Matanya membelalak, napasnya memburu. Ibu San hanya bisa menunduk dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. "Aku... aku terlambat menyelamatkannya... dan juga menyelamatkanmu darinya," ucapnya terisak. "Maafkan aku... Maafkan aku atas apa yang anakku lakukan padamu."Tubuhnya hampir berlutut, namun dengan cepat Karina meraih dan menahannya. "Tante, tolong jangan seperti itu... Aku tidak pernah benar-benar membenci San. Semua yang dia lakukan padaku... sudah aku maafkan."Ibu San terisak. "Kau perempuan yang baik," jawabnya seraya menatap Karina dengan penuh penyesalan. "Seharusnya kau tidak bertemu dengan anakku yang... sakit dan tersesat."Karina menggenggam buku harian itu erat di tangannya sambil menunduk pelan. "Tante... aku yang memilih untuk mencintainya. Dan San... dia membalas cintaku. Dia pernah membuatku bahagia, dan aku tidak pernah menyesal mencintainya," ujarnya pelan namun tegas. “...meskipun setelah aku mempercayakan hidup dan masa depanku padanya, caranya mencintaiku mulai salah.”

16. Buku Harian San - Kiara
Malamnya, setelah makan bersama Jeno, Karina masuk ke kamar dan duduk di tepi kasur. Tangannya terulur, meraih buku harian San yang tergeletak di meja kecil.Di setiap halamannya, rahasia demi rahasia San terungkap—obsesi yang tak terkendali, ketakutan yang mendalam, bahkan sisi tergelap dari dirinya. Setiap kata terasa seperti luka baru, namun juga penutup bagi luka lama.Untuk pertama kalinya, Karina merasa benar-benar melihat seluruh sosok San—bukan hanya sisi yang mencintai, namun juga sisi yang hancur oleh cinta itu sendiri.Ia merasakan kesedihan bercampur ketenangan seiring tiap lembar yang ia baca. Karina tahu, meski menyakitkan, ia harus menuntaskan semuanya.Dan ia juga harus siap menerima apa pun tentang kebenaran itu.***Entry 1 (Tulisan masih besar-besar, ejaannya banyak yang salah)Ayah marah lagi malam ini. Suaranya keras, banyak pecahan gelas di mana-mana.
Ibu menangis, tapi tidak pernah melawan.
Aku sembunyi di bawah meja. Aku tutup telinga, tapi suara itu tetap terdengar.
Ayah selalu berteriak pada Ibu. Kadang bukan cuma suara... kadang tangannya juga.Entry 2Ibu pergi.
Aku lihat dari jendela, dia jalan sambil menggandeng tangan seorang pria.
Aku tahu itu bukan Ayah.Aku tidak mengerti.
Kata Ibu, dia sayang Ayah.
Tapi kalau sayang, kenapa pergi?Entry 3Ibu tidak pernah pulang lagi sejak malam itu.
Ayah marah besar. Dia memukul Ibu sampai jatuh sebelum Ibu pergi.Aku kira kalau Ibu pergi, Ayah akan berhenti marah. Tapi ternyata tidak.
Sekarang Ayah malah sering marah padaku.
Aku cuma mau bantu bersihin rumah dan masak supaya Ayah senang.
Tapi Ayah tetap memukulku... kadang juga mengurungku di kamar.Ibu... aku tidak tahu aku salah apa.Entry 4Hari ini Ayah senyum-senyum sendiri.
Di meja, ada banyak foto tante-tante yang tidak aku kenal. Beberapa digunting, sebagian ditempel di buku dan di dinding.Aku penasaran, lalu bertanya kepada Ayah, siapa perempuan di foto itu.
Ayah cuma bilang, "Dia cantik, ya? Dia akan jadi milik Ayah."Aku tidak mengerti.
Tapi cara Ayah menatap foto itu... membuatku takut.Entry 5Ayah pergi lagi malam-malam.
Aku ngintip dari jendela, dia bawa kamera.Besok paginya, ada foto baru tante itu di meja.
Tante itu kelihatan lagi jalan dengan temannya.Kenapa Ayah punya fotonya?
Aku takut nanya lagi.
Ayah marah besar waktu aku tanya kemarin.Entry 6 (Tinta ditekan, ada noda seperti bekas air yang menembus serat kertas)Aku kangen Ibu.
Kenapa Ibu tidak pulang-pulang?Ayah memukulku lagi hari ini.
Katanya mulai sekarang, aku tidak boleh menangis. Tidak boleh tanya soal Ibu lagi.
Ayah bilang Ibu jahat karena memilih orang lain.
Ayah bilang semua perempuan begitu.Tapi kenapa Ayah masih simpan foto tante itu di kamarnya?
Kadang aku dengar dia bicara sendiri: "Kamu tidak akan bisa lari dariku," atau, "Kamu punyaku."Aku tidak suka dengarnya.
Aku takut, Ibu.Entry 7Ayah membawa tante itu ke rumah hari ini. Katanya, "Ini teman Ayah."Tante itu cantik. Rambutnya panjang, suaranya lembut.
Dia tersenyum waktu melihatku.
Aku senang... karena sudah lama tidak ada yang tersenyum di rumah ini.Tante duduk di ruang tamu. Ayah menyuguhkan teh.
Ayah terlihat senang, katanya, "Sekarang rumah kita tidak sepi lagi."Tante bantu masak malam ini. Makanannya enak.
Ayah tertawa. Tante juga.
Aku pikir... mungkin Ayah akhirnya sudah tidak marah lagi.Tapi malamnya, aku dengar suara ribut dari kamar Ayah.
Tante menangis. Ayah berteriak: "Jangan sebut nama lelaki lain! Kamu milikku sekarang!"Aku ngintip dari balik pintu.
Tante bilang pelan, "Kita belum—" tapi Ayah menamparnya.
Kepala tante terhuyung.
Tapi Ayah tidak berhenti. Dia terus memukulnya.Aku ingin lari, tapi kakiku gemetar.
Tante sempat menatap ke arahku, matanya merah, tangannya terulur sedikit—seperti minta tolong.
Tapi aku tidak bisa apa-apa.
Aku cuma lari ke kamar dan menutup pintu.Paginya, tante sudah tidak ada.
Ayah bilang dia pulang.Aku tidak mengerti.
Ayah bilang dia benci lihat orang menangis,
tapi kenapa dia yang selalu bikin orang menangis?Entry 8Ayah sering pergi malam-malam.
Aku dengar langkahnya di koridor, lalu pintu depan terbuka pelan.
Paginya, selalu ada foto baru di mejanya.Aku tidak tahu kenapa Ayah begitu.
Katanya dia benci perempuan, tapi kenapa terus mencari mereka?
Katanya semua perempuan jahat, tapi kenapa dia tersenyum setiap lihat foto mereka?Kadang Ayah bilang cinta itu artinya menjaga.
Tapi setiap malam, dia akan marah besar kalau tante-tante itu tidak datang.
Dan kalau itu terjadi, dia kembali melampiaskannya padaku.Kalau itu cinta... kenapa rasanya menakutkan?Aku ingat, ibu-ibu tetangga pernah berbisik di depan rumah.
Mereka bilang, Ayahku gila.Aku tidak tahu maksudnya waktu itu.
Tapi mungkin mereka benar.Mungkin cinta memang bisa bikin orang marah.
Dan pergi... bisa bikin orang jadi gila.Entry 9 (Tulisan lebih rapi daripada sebelumnya, tapi masih tampak ragu. Beberapa huruf ditekan kuat seperti emosi yang ditahan.)Ayah pulang mabuk lagi.
Dia marah-marah, banting barang, lalu tertawa sendiri sambil menyebut nama tante yang bahkan aku tidak kenal.
Katanya dia sudah lupa Ibu. Tapi tiap kali marah, yang disalahkan tetap Ibu.Aku tidak mengerti kenapa Ayah selalu butuh seseorang untuk disalahkan... atau untuk dimiliki.Kadang aku takut.
Apa aku juga akan jadi seperti dia?Entry 10 (Tulisan lebih rapi, tapi ada beberapa coretan di kalimat pertama, seperti San sempat ragu menulis.)Sudah lama aku tidak menulis... entah berapa tahun, tiga? Lima?
Aku pikir, mungkin aku perlu menulis lagi.Sepertinya aku mulai suka seseorang.
Namanya Kiara.Dia duduk dua bangku di depanku.
Rambutnya sering dikuncir dua, yang entah kenapa justru membuatnya terlihat begitu menggemaskan.
Senyumnya juga manis.
Dia sering menyapaku duluan, menanyakan PR, bahkan membantuku kalau aku tidak paham pelajaran Matematika.Aku masih ingat waktu pertama kali kami bicara, saat MOS.
Kami dihukum berdiri di depan lapangan karena salah atribut.
Lucunya, Kiara malah tertawa waktu itu. "Eh, salah juga, ya? Untunglah, berarti aku tidak sendirian," katanya.Aku cuma mengangguk waktu itu, tapi dia terus mengajakku ngobrol, mulai dari hal-hal yang sepele, seperti cuaca panas atau suara peluit yang nyaring.
Sampai akhirnya, hukuman kami berdua malah diperpanjang oleh kakak kelas.
Tapi anehnya, aku sama sekali tidak keberatan.Entry 11 (Tulisan kembali berantakan, tinta tebal di beberapa kata, seperti ditulis sambil menahan sesuatu.)Hari ini aku bawa cokelat buat Kiara.
Aku sisipkan kertas kecil: "Terima kasih sudah baik sama aku."Aku tidak tahu itu termasuk menyatakan perasaan atau bukan.
Tapi aku cuma ingin dia tahu, kalau aku senang tiap kali dia tersenyum padaku.Tapi waktu jam istirahat, cokelat itu kembali ke mejaku.
Dibuka. Dibuang setengah.
Kertasnya disobek, lalu ditulis balik: "Jangan sok romantis. Kamu aneh."Teman-teman satu kelas tertawa.
Mereka mulai mengejek sambil menirukan cara bicaraku waktu gugup. "Terima kasih sudah baik sama aku~"Aku cuma bisa diam. Mataku panas, tapi aku tahan.
Aku tidak mau mereka lihat aku menangis.Mungkin mereka benar.
Mungkin aku memang aneh.
Itulah kenapa tidak ada yang menyukaiku.Bahkan anak-anak tetangga pun sering mengejek: "Jangan dekat-dekat San, nanti kamu dipukul juga!"
Atau, "San monster seram seperti ayahnya!"Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu... suara ibu-ibu yang suka bergosip di depan rumah.
"Ayah San itu gila," kata mereka pelan tapi cukup keras untuk kudengar. "Biasanya yang begitu... nurun ke anaknya."Aku pura-pura tidak dengar.
Tapi kata-kata itu terus menempel di kepala, seperti bisikan yang tidak mau pergi.Aku pulang lebih lama dari biasanya.
Langit sore kelabu.
Dan aku tidak tahu kenapa aku masih membawa bungkus cokelat yang sudah meleleh di tanganku.Begitu sampai rumah, Ayah sudah menunggu di ruang tamu.
Dia melihatku sebentar. Tatapannya tajam tapi kosong.
Lalu matanya turun ke bungkus cokelat itu."Ada yang nolak kamu?" tanyanya datar.Aku diam. Tapi air mata yang kutahan mati-matian akhirnya jatuh juga.
Ayah berjalan pelan ke arahku. Aku pikir dia akan memukulku.
Tapi tangannya justru menyentuh pundakku."Jangan nangis," katanya. "Kamu cuma terlalu lembut."Aku masih terisak. Aku bilang aku cuma ingin dia tahu kalau aku suka dia.Ayah mendengus kecil, tapi bukan marah. Lebih seperti sedang kasihan. "Dengar, Nak. Dunia ini bukan buat orang yang jujur seperti kamu."Tangannya menepuk pipiku, lembut tapi berat.
"Kalau kamu ingin seseorang, jangan kasih mereka kesempatan buat nolak. Jangan kasih ruang buat mereka pergi. Karena kalau kamu biarin... mereka bakal ninggalin kamu... seperti yang dilakukan ibumu."Aku menangis lebih keras.
Tapi anehnya, Ayah malah tersenyum. "Sudah, sudah. Nanti juga kamu bakal mengerti," katanya. "Kadang, cinta itu harus dipaksa... biar tidak hilang."Malamnya, aku menulis ini.
Dan aku tidak tahu mana yang lebih sakit... kata-kata orang di sekolah, atau kata-kata Ayah yang terasa... benar.Tidak.
Tidak... aku takut.
Apa aku akan jadi seperti dia?Entry 12Sejak hari itu, Kiara tidak pernah menyapaku lagi.
Kalau aku lewat, dia pura-pura sibuk membuka buku, atau tiba-tiba mengajak temannya bicara.
Kadang mereka tertawa kecil, dan aku tahu... mereka sedang membicarakanku.Aku tahu, gara kejadian cokelat kemarin, beberapa temannya masih suka menggoda dan meledeknya.
Mungkin itu sebabnya dia mulai menjaga jarak.
Mungkin dia akhirnya sadar dan malu karena berteman denganku.Aku tidak marah. Aku cuma bingung.
Mungkin aku salah. Mungkin seharusnya aku tidak memberi cokelat itu.
Mungkin... perasaan itu memang salah sejak awal.Aku pikir, kalau seseorang berbuat baik padaku, aku boleh membalas dengan hal yang sama.
Tapi ternyata... tidak semua orang ingin kebaikannya dibalas.
Mungkin dia hanya bersikap baik karena kasihan padaku.
Dan mungkin aku yang bodoh karena percaya bahwa itu tulus.Entry 13Hari ini ada tugas kelompok.
Tidak ada yang memilihku.
Akhirnya guru menyuruhku bergabung dengan kelompok yang tersisa... dan di sana ada Kiara.Kupikir ini bisa jadi kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Tapi dia bahkan tidak menatapku sekali pun.
Waktu aku bantu kerjakan bagiannya, dia hanya berkata pelan, "Udah, biar aku aja." Nada suaranya dingin. Dia bahkan menggeser kursinya menjauh, seolah duduk di dekatku adalah hal yang paling menjijikkan.Aku jadi teringat kata Ayah: "Kalau kamu biarin, mereka bakal ninggalin kamu."
Mungkin Ayah benar.
Mungkin semua orang akan pergi kalau aku tidak cukup kuat menahan mereka.Hari ini hujan.
Aku sengaja tidak bawa payung.
Kupikir, kalau aku berjalan cukup lama di bawah hujan, orang-orang tidak akan tahu kalau aku sedang menangis.Tapi waktu pulang, Ayah langsung tahu.
Entah bagaimana, dia selalu tahu.
Padahal aku sudah berusaha menyembunyikan semuanya... senyum, nada suara, bahkan cara berjalan.
Tapi tetap saja, dia bisa melihatnya.Dia tidak perlu bertanya.
Cukup satu tatapan, dan aku tahu apa yang akan terjadi.
Aku bahkan tidak mencoba menjelaskan.
Aku cuma diam, menunggu.
Seperti biasa.Tamparannya datang cepat, tanpa suara peringatan.
Katanya, anak laki-laki tidak boleh menangis.
Katanya, aku lemah dan memalukan.
Aku tidak membantah.
Aku cuma menunduk, biar lebih cepat selesai.Sudah lama Ayah tidak semarah ini.
Aku kira dia sudah berubah, sejak semua foto tante-tante itu dibuang.
Tapi mungkin... malam ini dia teringat lagi pada mereka.
Aku masih ingat dulu, Ayah selalu marah besar kalau tante-tante itu tidak datang.
Dan mungkin itu penyebab amarahnya kembali lagi.Aku tidak menghitung berapa kali dia memukul.
Semuanya terasa sama: berat, tapi tidak baru.Malamnya, aku baru sadar kalau buku ini basah, sebagian tintanya luntur.
Mungkin lebih baik kalau aku berhenti menulis dulu.Entry 14Hari ini malam prom kelulusan.
Sebenarnya aku tidak mau datang.
Entah kenapa, dari pagi rasanya terlalu berat.Tapi akhirnya aku datang juga.
Kupikir tidak ada salahnya bertemu semua orang untuk terakhir kalinya, sebelum kami masuk ke SMA masing-masing.Dan... Kiara. Tentu saja.
Kami tidak sekelas lagi sejak kelas tujuh.
Dia masih sama: rambutnya digelung rapi ke atas, menyisakan sedikit poni lembut yang membingkai wajahnya.
Senyumnya tetap manis, tawanya masih mudah menular.
Dia cantik sekali malam ini.
Terlalu cantik, sampai rasanya aku tidak bisa bernapas.
Kupikir aku sudah melupakan perasaan itu,
tapi ternyata tidak.Musik berirama pop pelan mulai terdengar.
Beberapa teman menjerit kecil saat lagu favorit mereka diputar.
Semuanya tampak bahagia.Aku berdiri di pinggir, hanya menonton dari jauh.
Tapi saat Kiara menari dengan teman laki-lakinya,
Entah kenapa, dadaku terasa seperti... bukan cuma sesak. Tapi panas, dan aneh.Aku tiba-tiba berharap musiknya berhenti.
Lampunya mati. Semua orang diam.
Aku ingin mereka berhenti tertawa.
Aku ingin... tidak tahu.
Aku takut dengan pikiranku sendiri.Semuanya terjadi begitu cepat.
Aku tidak tahu kenapa tanganku tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
Tidak tahu kenapa aku berbicara dengan suara keras, suara yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri. "Jangan sama dia."Kiara menatapku dengan mata melebar.
Jeritan kecilnya membuatku sadar.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik, "Gila, dia apaan sih?"
"Dia nyakitin Kiara!"Kiara berusaha menarik tangannya, tapi aku tidak melepaskannya.
Aku belum sadar kalau genggamanku terlalu kuat, sampai dia meringis. "San, lepasin," katanya pelan, suaranya gemetar.Baru waktu itu aku sadar betapa kerasnya aku menahan.
Aku langsung mundur.
Lampu terasa terlalu terang.
Musik berhenti.
Suara tawa berubah jadi bisikan-bisikan tajam.Aku keluar dari aula sebelum siapa pun sempat menahan.
Di luar, tanganku gemetar.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa semarah itu.
Padahal aku cuma... ingin dia melihatku lagi. Sekali saja.“Mungkin lebih aman kalau aku tidak dekat-dekat sama siapa pun lagi.”

17. Buku Harian San - Karina
Entry 15Aku tidak sengaja bertemu seorang perempuan di toko buku dekat kampus.Awalnya kupikir hanya perasaanku saja—tapi setiap kali aku berpindah rak, rasanya ada tatapan yang menempel di punggungku.
Aku menoleh sekilas saat merasa seseorang berdiri terlalu lama di sampingku. Ternyata perempuan itu… dia bicara duluan. Entah kenapa, aku malah menanggapinya. Biasanya aku tidak tertarik berbicara dengan siapa pun di sini. Tapi dia terlihat berbeda… jarang sekali ada yang nyaman berada di tempat yang sama denganku.Dia menunjuk rak lain, tangannya sedikit gemetar. Suaranya pelan, tapi jujur.
Aku tersenyum—refleks. Dan aku tahu, itu kesalahan.Karena saat dia menatap balik, matanya sedikit membesar—aku sadar, aku pasti terlihat aneh di matanya.
Tapi kenapa… dia malah tersenyum?Aku tidak ingat kapan terakhir kali ada perempuan yang tersenyum padaku seperti itu.Entry 16Ternyata dia satu fakultas denganku. Namanya Kattherina Loraine. Cantik seperti orangnya. Tapi juga keras kepala.Sudah berkali-kali kubilang: jangan terlalu dekat denganku. Tapi dia tidak peduli.
Aku pikir dia akan menjauh setelah aku bersikap dingin, tapi tidak. Dia selalu duduk di dekatku, mengajakku bicara, seolah tidak takut pada apa pun.Awalnya aku terganggu. Tapi lama-lama... aku justru menunggu-nunggu kehadirannya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa dilihat. Aku merasa ada.
Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri: aku tidak akan dekat dengan siapa pun lagi.
Tapi mungkin… untuk sekali ini saja, tidak apa-apa.Entry 17Aku tidak percaya waktu tahu dia ada di kelas yang sama denganku. Teman-temannya memanggilnya Karina.
Aku sengaja duduk di belakang, hanya untuk melihatnya lebih lama.Setiap senyumnya, setiap gerak kecilnya… rasanya ingin kusimpan semua.
Awalnya aku cuma penasaran. Tapi sekarang... aku takut kehilangan jejaknya.Aku mulai mencatat hal-hal kecil tentang dia—buku favoritnya, warna pulpen yang sering dia pakai, jam berapa dia biasanya keluar dari kelas.Itu hanya kebiasaan kecil, awalnya.
Tapi perlahan… berubah jadi kebutuhan.Entry 18Kami semakin sering bersama akhir-akhir ini.
Dia suka mengeluh soal dosen, soal temannya yang suka telat, atau cuma sekadar cuaca yang terlalu panas.
Aku jarang bicara, tapi dia tidak keberatan. Dia tetap bercerita.
Kadang dia tertawa—dan itu saja sudah cukup membuatku lupa segalanya.Aku mulai membawa kamera kecil ke mana-mana.
Awalnya untuk tugas fotografi kampus.
Tapi lama-lama… aku ingin memotret hal-hal yang menurutku penting.
Tanpa sadar, hampir semua fotonya adalah dia.Saat dia tertawa di depan kafe.
Saat dia menunduk membaca buku.
Saat rambutnya tertiup angin.Kupikir itu hal yang wajar—aku hanya ingin mengingatnya seperti ini.
Tapi malamnya, saat kulihat foto-foto itu berderet di mejaku, aku merasa… kurang.Aku harus mengambil lebih banyak lagi... dari sudut yang berbeda.
Karina…
kau cantik sekali.Entry 19Hari ini dia bilang sesuatu.
Aku suka kamu.Aku sempat berpikir aku salah dengar. Tapi tidak. Itu nyata.Aku tidak pantas.
Aku bahagia… sangat bahagia.Karina… apa kau akan tetap menyukaiku kalau kau tahu aku suka menguntitmu?Entry 20Ayah marah lagi hari ini.
Apa kau akan jijik padaku?
Aku sudah bilang untuk tidak dekat-dekat denganku…
Entah bagaimana dia menemukannya—foto-foto itu, yang kusimpan di balik ventilasi kecil di bawah tempat tidur, tersembunyi bersama debu dan serpihan kertas yang sudah menguning.
Semua hasil cetakan yang kupikir hanya aku yang tahu.Ayah tidak bicara. Dia hanya memukul.
Setiap pukulannya seperti ingin menghapus sesuatu dariku—sesuatu yang menyerupai dirinya sendiri.Ayah bilang aku menjijikkan. Dia bilang aku mulai seperti dirinya dulu.
Dia menamparku berkali-kali sampai darah terasa di bibirku. Aku diam saja. Aku tidak ingin membenarkan diri. Karena aku tahu… dia benar.Lalu… Karina datang.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu alamatku, kenapa dia bisa muncul di saat seperti ini.
Dia berlari masuk, mencoba menghentikan Ayah. Dia melindungiku.
Aku tidak sempat bicara apa pun. Aku hanya bisa menatap punggungnya, dan untuk pertama kalinya aku merasa takut — bukan karena ayahku, tapi karena dia melihat sisi yang seharusnya tidak dia lihat.Dia pasti jijik. Tapi dia tetap memelukku.Aku memeluknya balik.
Dan saat itu, aku sadar — kalau aku kehilangan dia, aku tidak tahu apa yang tersisa dari diriku.Entry 21Dia bertanya kenapa aku tidak pernah cerita. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bagaimana caraku menjelaskan, kalau aku sendiri tidak yakin pantas didengarkan?Waktu dia melihat bekas luka di tubuhku, tatapannya campur antara takut, marah dan kasihan. Aku cuma diam.
Kupikir dia akan pergi. Siapa pun pasti akan pergi setelah melihat bekas mengerikan itu.Tapi tidak.
Dia memelukku.
Dan… menciumku.Aku bahkan tidak sempat berpikir apa-apa. Semuanya berhenti sesaat.
Aku cuma bisa duduk diam, merasakan bibirnya.
Rasanya salah… tapi juga benar di saat yang sama.Karina — satu-satunya yang melihatku.
Satu-satunya yang tinggal ketika semua orang pergi.Entry 22Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Aku berusaha menghentikannya, tapi dia adalah Karina, wanita paling keras kepala yang kucintai.
Aku membiarkannya. Sampai semuanya terasa seperti mimpi yang terlalu nyata.Semuanya kabur—antara rasa sakit, hangat, dan sesuatu yang tidak bisa aku namakan.Sekarang aku tahu… dia sudah memilihku.
Bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan seluruh dirinya.
Aku tidak perlu takut lagi.Karina milikku.
Sepenuhnya.Entry 23Dia bilang dia sayang aku.
Seharusnya itu cukup, kan? Tapi kenapa aku masih takut?Aku takut dia sadar ada orang lain yang lebih baik. Aku takut dia pergi, sama seperti Ibu meninggalkan Ayah.
Aku tidak bisa biarkan itu terjadi lagi. Tidak akan pernah.Kalau Karina pergi, aku tidak punya alasan untuk hidup.
Kalau dia mencoba meninggalkanku... aku harus pastikan dia tetap tinggal.
Bagaimanapun caranya.Karina bukan sekadar cintaku.
Dia takdirku.
Dia harus jadi milikku, selamanya.Entry 24Karina marah lagi hari ini. Katanya aku terlalu cemburu.
Tapi bagaimana aku bisa tidak cemburu, kalau setiap kali dia tersenyum pada orang lain, dadaku seperti terbakar?Aku tahu itu salah. Aku tahu aku berlebihan.
Tapi bagaimana kalau dia benar-benar pergi?
Bagaimana kalau aku kehilangan dia begitu saja?Tidak.
Aku tidak akan biarkan siapa pun mengambilnya dariku.
Karina harus tetap di sini.
HARUS.Entry 25Dia bilang butuh ruang.
Ruang? Itu hanya alasan untuk pergi.TIDAK.
Aku tidak akan biarkan dia pergi.
Aku akan tarik dia kembali — dengan cara apa pun.Karina… kau lupa?
Aku sudah pernah bilang, kan?
Kau yang mulai…
Jangan coba-coba kabur dariku.Entry 26Dia bilang semuanya harus berhenti.
Bahwa aku terlalu posesif, bahwa hubungan ini sudah tidak sehat.Aku tidak paham.
Apa cinta yang kuberi terlalu banyak? Apa salah kalau aku takut kehilangannya?
Aku cuma ingin menjaganya… tapi di matanya, aku adalah ancaman.Tadi aku hampir memukulnya.
Tanganku sudah terangkat — dan aku melihat ketakutan di wajahnya.
Wajah yang dulu selalu tersenyum padaku.Aku menahan diri, tapi kata-katanya tetap menusuk.
“Kau bukan lagi orang yang kucintai.”Aku berlutut. Aku bahkan tidak peduli lagi soal harga diri.
Aku hanya ingin dia di sini, bersamaku. Tapi dia tetap pergi.Dan sebelum menutup pintu itu, dia bilang:
“Lupakan aku… sebelum kau kehilangan dirimu sendiri sepenuhnya.”Terlambat, Karina.
Aku sudah kehilangan diriku sejak aku mencintaimu.Entry 27Sudah berhari-hari aku mencoba pura-pura waras.
Bekerja, tertawa, bahkan mencoba hal-hal baru dengan kedua sahabat gilaku.
Tapi setiap kali aku menutup mata — yang muncul hanya dia.Karina.
Tatapan yang dulu penuh sayang, kini dingin dan asing.Aku melihatnya hari ini. Di kafe kantornya. Bersama pria itu.
Dia tersenyum. Senyum hangat… yang dulu hanya untukku.Dadaku terbakar.
Aku ingin percaya itu bukan apa-apa, tapi tangannya nyaris menyentuh tangan pria itu.
Dan saat itu, semuanya runtuh.Aku tidak melihat Karina lagi. Aku melihat Ibu — yang pergi bersama pria lain dan tidak pernah kembali.
Aku mendengar suara Ayah berteriak.
Dan aku, anak kecil yang hanya bisa berdiri di ambang pintu dan melihat semuanya hancur.Tapi aku tidak akan mengulang kesalahan Ayah.
Aku tidak akan diam saja.Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Karina.
Kau milikku. Selamanya.
Dan aku tidak peduli jika kau membenciku karena itu.Entry 28Aku sudah melewati batas.Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku hanya... takut kehilangan.
Tapi entah kenapa, rasa takut itu berubah menjadi amarah — hanya karena mendengar dia menyebut nama pria itu.
Dan sekarang, yang tersisa hanya penyesalan.Dia tertidur di sampingku. Tenang, seolah semua ini tidak pernah terjadi.Maafkan aku sudah menakutimu, Sayang.
Aku melakukan ini karena aku mencintaimu.
Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu, Karina.Entry 29Aku tidak bisa berhenti gemetar.
Bukan karena marah… tapi karena aku tidak percaya.Dia... perempuan yang selama ini kupeluk, yang pernah bilang aku rumahnya.
Tapi kenapa dia tega melakukan itu padaku?Apa kau benar-benar ingin aku hilang dari dunia ini, Karina?Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya tanpa cinta.
Hanya ketakutan.
Dan aku tidak tahu lagi, siapa di antara kami yang sebenarnya berubah.Aku mencoba bicara, tapi yang keluar hanya tangis tanpa suara.
Rasanya seperti kehilangan seluruh hidupku dalam satu detik.
Mungkin karena memang itu yang terjadi.Sekarang aku mengerti kenapa Ayah dulu berhenti berharap.
Karena saat seseorang yang kau cintai melihatmu seperti monster…
Tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.Entry 30Aku baru sadar... dia pergi.
Pintu kamar terbuka sedikit. Seprai masih kusut. Aroma tubuhnya masih tertinggal di udara. Tapi dia tidak ada di sini.Aku menelpon meja depan.
Mereka bilang melihat seorang wanita masuk ke kamar 106 — kamar sebelah.
Kamar yang dihuni dua pria.Darahku berhenti mengalir.
Aku menatap pintu itu lama, tapi kakiku tak bergerak.Mungkin aku takut.
Atau mungkin aku tahu... kalau aku melangkah sekarang, aku tidak akan bisa mengendalikan diriku lagi.Aku mencintainya.
Terlepas dari apa yang baru saja dilakukannya padaku semalam.
Aku tidak membencinya — karena mungkin aku memang pantas mendapatkannya.Tenang saja, Karina… aku akan menyelamatkanmu.
Aku tidak peduli jika nyawaku taruhannya.Setelah ini... aku akan melepaskanmu.
Seperti yang kau minta dulu.Aku ingin kau memulai hidup barumu.
Seperti katamu waktu itu:
“Lupakan aku… sebelum kau kehilangan dirimu sendiri sepenuhnya.”Ya… lupakan saja aku.Aku yakin, Jeno… benar, kan?…TIDAK.(Halaman ini tampak kusut, seolah pernah diremas lalu diratakan kembali.)(Di lembar berikutnya, tampak tulisan tangan dengan goresan goyah — tinta menekan terlalu dalam, meninggalkan bekas di balik halaman yang sudah terlipat di ujungnya. Itu adalah entri terakhir San.)Kalau aku kehilangan Karina... lebih baik aku mati.
Ya, pria itu mungkin lebih layak bersamamu…
Kalau dia meninggalkanku... aku akan pastikan dia tetap bersamaku, bagaimanapun caranya.Dia milikku.
Selamanya.

18. Selamat Tinggal, Sayang
Malam itu hujan turun pelan, membawa ketenangan yang tak terbantahkan. Karina duduk di dekat jendela, memandangi butir air yang mengalir lambat di kaca. Di tangannya ada secangkir teh chamomile hangat, semerbak aromanya menyelimuti ruangan. Di pangkuannya ada buku harian milik San—halaman terakhir terbuka, dengan selembar kertas kecil terselip di dalamnya, bertuliskan:"Aku akan melanjutkan hidupku. Tapi aku akan selalu mengingatmu, San."Angin lembut menyelinap melalui celah jendela yang setengah terbuka. Dalam keheningan yang nyaman itu, mata Karina perlahan terpejam. Ia mulai bermimpi—namun tidak seperti biasanya.Ia berdiri di hamparan bukit hijau, di bawah langit senja keemasan. Udara hangat memenuhi dadanya dengan kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.Dan di sana, San berdiri. Wajahnya bersih, matanya memancarkan ketenangan. Tak ada jejak kelelahan atau amarah di sana—hanya kehangatan yang menenangkan.Karina menahan napas saat San perlahan melangkah mendekat dan tersenyum lembut. "Aku tahu, permintaan maaf saja tak cukup untuk menghapus semua luka yang aku berikan padamu, Karina," ucapnya dengan nada penuh kejujuran.Air mata Karina jatuh, tapi kali ini bukan tangis kesakitan, bukan juga tangis yang menyerukan luka. Itu adalah tangisan yang telah menerima semuanya. "Aku rindu kamu..." bisiknya dengan suara gemetar."Aku juga," jawab San lirih. "Tapi sekarang kamu harus hidup... benar-benar hidup dalam versi terbaik dirimu sendiri."Karina mengangguk ringan, air mata memenuhi sudut matanya. "Apa ini terakhir kalinya?" tanyanya pelan.San terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. "Iya... karena sekarang kamu sudah kuat tanpa aku. Kamu tidak butuh mimpi seperti ini lagi, Sayang." Ia menarik Karina ke dalam pelukan terakhir yang begitu dalam, yang terasa hangat, dan lama.Karina memejamkan mata dalam pelukan itu. "Terima kasih, San... untuk hari-hari indah yang pernah kita lewati," bisiknya. "Aku tidak menyesal pernah mencintaimu."San mendekatkan wajahnya, mencium lembut kening Karina, lalu berkata dengan suara lirih, nyaris bergetar, "Dengar baik-baik, Karina... Di kehidupan ini, aku gagal menyayangimu seperti yang seharusnya. Aku hanya menjadi monster yang mengganggu hidupmu. Dan itu... sudah takdirku."Karina tak mampu menahan tangisan lagi; suaranya terdengar pecah oleh rasa sakit. "San, jangan bilang begitu... Aku harap di kehidupan berikutnya kamu dapat keluarga yang benar-benar merawat dan mencintaimu dengan baik. Dan aku akan—"San menggeleng pelan sambil menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tidak mau kamu bertemu denganku lagi... di kehidupan berikutnya dan seterusnya. Jika takdir membawamu ke jalan berbeda... tolong, jangan pernah mencariku. Jangan jatuh cinta lagi padaku."Kata-kata itu membuat Karina membeku. "San... kenapa...?"San tersenyum lemah. "Karina... aku pria yang jahat. Aku bahkan tak layak mendapatkan maafmu, setelah semua yang kulakukan padamu." Suaranya bergetar, semakin lirih. "Aku terlalu rusak untuk bisa berdiri di sisimu lagi. Ini... mungkin memang hukuman yang pantas untukku."Ia menatapnya dalam-dalam, seolah ingin mengingat wajah itu untuk terakhir kali. "Jadi tolong... hiduplah lebih baik, ya? Dan hati-hati... Jangan pernah jatuh cinta pada orang sepertiku lagi."Perlahan, bayangan San mulai memudar. "Maaf... aku pasti akan selalu mencintaimu, Karina... tapi cinta seperti ini... cukup sampai di sini. Sekarang waktunya kamu berjalan ke depan. Selamat tinggal, Sayang."Karina membuka matanya perlahan.Udara pagi yang segar memenuhi ruangan, sementara sinar matahari menyelinap halus melalui sela-sela tirai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan kelegaan. Beban berat yang selama ini menghimpit hatinya seperti lenyap begitu saja.Sebuah senyuman tipis terlukis di bibirnya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam ketenangan pagi itu, merasakan setiap detiknya dengan damai. Pelan-pelan ia berdiri, tubuhnya terasa lebih ringan. Dunia di luar sana menunggunya, tak lagi dihantui bayangan kelam, melainkan dipenuhi harapan baru, diterangi oleh nyala cinta yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya.Namun suara dari mimpi itu masih bergema."Kamu masih saja egois. Kamu bilang kamu ditakdirkan menjadi monster di kehidupan ini... kamu juga melarangku untuk mencintaimu lagi..."Karina menghela napas panjang, menutup mata sejenak. Dalam hening itu, ia memanggil satu nama yang masih menempati ruang khusus di hatinya. "Tapi, San... bagaimana jika bahkan di kehidupan selanjutnya, takdir tetap mengarahkan langkahku untuk kembali bertemu denganmu?"***Suasana coffee shop itu terasa hangat. Aroma kopi bercampur dengan alunan musik lembut dan tawa riang teman-teman Karina, menciptakan atmosfer nyaman yang sulit diabaikan.Karina berdiri di barisan antrean, jemarinya sibuk bermain dengan ponselnya, meskipun pendengarannya terusik oleh celotehan Giselle, Winter, dan Ningning yang tidak berhenti membahas satu topik itu dari tadi."Serius, Karina! Baristanya ganteng banget. Lo wajib kenalan!" Giselle melontarkan komentarnya sambil menutup mulut dan terkikik kecil.Winter menyikut lengan Karina dengan semangat. "Lo liat dia gak? Tatapannya itu lho, tajam banget. Aura bad boy-nya kuat."Ningning tersenyum kecil sambil menimpali, "Coba aja. Siapa tahu dia jodoh dari reinkarnasi lo, kan?"Semua tertawa serempak. Karina ikut tersenyum, meski ada rasa aneh yang perlahan muncul. Pandangannya tak bisa sepenuhnya lepas dari pria itu—barista tinggi dengan garis rahang tegas dan tatapan yang entah kenapa terasa familiar. Rasanya pernah bertemu sebelumnya, tapi ia mencoba menepis pikiran itu.Sampai akhirnya, terdengar suara pria itu. "Karina Elaine Loraine?"Ruangan mendadak terasa sunyi. Jantung Karina berdegup semakin kencang. Nama lengkapnya... sudah pasti kerjaan Giselle. Tidak banyak orang yang memanggilnya begitu. Namun, mendengar namanya meluncur dari bibir pria itu membuatnya merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ada sensasi dingin yang tiba-tiba menjalar di punggungnya.Dengan langkah perlahan, Karina maju untuk mengambil pesanannya. Tatapan mereka bertemu, dan ada sesuatu yang terasa berbeda. Mata pria itu dingin... namun di balik dinginnya, muncul perasaan aneh yang begitu kuat—seperti deja vu.Seolah mereka pernah bertemu sebelumnya—Apa mungkin dia memang "reinkarnasi jodohku" seperti yang dikatakan Ningning? Di kehidupan sebelumnya atau lainnya? Memangnya ada yang seperti itu? Ah, aku mulai terdengar gila!Karina pun berdehem pelan setelah selesai berdebat dengan pikirannya dan memberanikan diri menunjukkan secuil senyum kecil. "San... senang bertemu denganmu," ucapnya lembut, tak sepenuhnya sadar kalau nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.Pria itu mengangkat alis, jelas terkejut. "Kamu... tahu namaku?" tanyanya, matanya menyisakan keterkejutan yang sulit disembunyikan.Karina hanya merespons dengan senyuman samar, sementara detak jantungnya terasa semakin tak beraturan. Ia sendiri pun bingung—tidak mengerti kenapa nama itu keluar begitu saja dari mulutnya secara acak, seolah tubuhnya bergerak dengan sendirinya. "Mungkin... kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Heheh..." gumamnya pelan.San menatapnya lama, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil—senyum yang sukses membuat hati Karina bergemuruh hebat. Namun bukan hanya sekadar bahagia, melainkan juga campuran aneh antara ketakutan dan kerinduan yang membingungkan dirinya sendiri."Oh, mungkin saja," jawab San perlahan. "Kalau begitu, senang bertemu denganmu lagi... Karina."

THE END.
🎉 Terima kasih sudah mau membaca cerita gilaku dari awal sampai akhir. 🎊Aku benar-benar salut kalian bisa bertahan dan mengikuti semua kekacauan, drama, dan kegilaan yang terjadi di dalam cerita ini.Tapi perlu diingat ya, cerita ini hanya fiksi. Semua kegilaan, obsesi, dan kekacauan yang ada di dalamnya cukup tinggal di dalam cerita saja—tidak perlu sampai terjadi di dunia nyata karena… amit-amit. 😭Sekarang… silakan kembali ke setelan pabrik dan pura-pura tidak pernah membaca apa pun di sini. ✨Sampai jumpa di cerita anti mainstream (alias sama gila) berikutnya.Terima kasih sudah membaca! 😌
